Rabu, 06 Februari 2013

Aksara 2008


ANEKA  BENTUK DAN MAKNA ONGKARA DALAM BUDAYA BALI
MULTI FORM AND MEANING OF ONGKARA IN BALI CULTURE

I Gde Wayan Soken Bandana
Balai Bahasa Denpasar

Abstrak
            Ongkara  adalah salah satu aksara suci dalam budaya Bali. Sebagai aksara suci Ongkara  termasuk dalam aksara wijaksara dan aksara modré. Tulisan ini adalah kajian tentang aksara dalam budaya Bali. Teori yang diacu  adalah teori linguistik antropologi  atau linguistik kebudayaan. Berdasarkan bentuknya, Ongkara  secara umum dibedakan menjadi dua, yaitu wujud atau bentuk umum dan bentuk khusus. Ongkara bentuk umum adalah Ongkara  yang memiliki bentuk sederhana yang dikenal oleh masyarakat umum. Ongkara bentuk khusus adalah Ongkara yang susah dipahami oleh masyarakat umum karena bentuknya sangat rumit. Aksara Ongkara  yang sederhana tergolong aksara wijaksara, sedangkan yang rumit tergolong aksara modré. Berdasarkan analisis, ditemukan beberapa bentuk Ongkara yang dibedakan berdasarkan pandangan masyarakat, yaitu bentuk umum dan khusus. Demikian pula halnya dengan kajian makna. Ada dua pandangan tentang makna Ongkara dalam budaya Bali, yaitu pandangan masyarakat umum dan pandangan masyarakat khusus atau pengejar filsafat.

Kata Kunci: Ongkara, bentuk, makna

Abstrac
            Ongkara is one of sacred in Balinese culture. As a secret letter, Ongkara belong to wijaksara and modré letter. The paper is a study of Balinese letter in Balinese culture. The paper refers to anthropological  and cultural linguistic theory.Based on their forms, Ongkara generally defferentiated into two kinds, namely common form and special form. Common form of Ongkara is known by public community. Special form of Ongkara is Ongkara which is difficult to be understood by public community due to its form is complicated. Letter of simple Ongkara belongs to wijaksara letter, whereas complicated one  classified into modré letter. Base of analyses, it is found that several forms of Ongkara differentiated by community point of view, namely, common and special forms. From the study of meaning point of view. There are two opinions of the meaning of Ongkara in Balinese culture, namely public community and exclussive community opinion or hunter of philosophy.
Keywords: Ongkara, form, meaning
1. Pendahuluan
Bahasa, aksara, dan sastra Bali memiliki fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Bali, yaitu sebagai identitas, lambang kebanggaan, dan alat komunikasi. Perlu sebuah kesungguhan untuk pelestarian, pembinaan, dan pengembangannya oleh pemerintah daerah dan masyarakat pendukungnya. Dalam hal ini Pemerintah Daerah Bali telah mengambil langkah pelestarian, pembinaan, dan pengembangan bahasa, sastra, dan aksara Bali dengan dikeluarkannya Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Daerah Tingkat I Bali Nomor 3 Tahun 1992, tentang bahasa, aksara, dan sastra Bali. Hal itu menunjukkan bahwa Pemda Bali sangat menaruh perhatian pada bahasa, aksara, dan sastra Bali. Dengan Perda tersebut diharapkan nilai-nilai luhur bangsa, etika, estetika, dan moralitas yang bersumber pada bahasa, aksara, dan sastra Bali dapat digali dan dikaji.
            Khusus untuk aksara Bali yang juga dijadikan objek dalam tulisan ini, pemerintah daerah telah melaksanakan usaha pelestarian. Wujud nyata tindakan itu terlihat pada pemakaian aksara Bali pada papan nama instansi pemerintah maupun swasta di Bali. Di samping, itu penulis atau para peneliti di Bali juga telah melakukan usaha ke arah itu dengan menulis dan melaksanakan penelitian tentang aksara Bali. Tulisan ini sedikit berbeda dengan penelitian atau tulisan terdahulu karena mengkaji aksara Bali secara khusus.
Berbicara masalah aksara Bali, berikut adalah pendapat dua orang tokoh aksara Bali, yaitu W. Simpen A.B. dan I Gusti Ngurah Bagus.  Simpen (1979) dalam bukunya yang berjudul Pasang Aksara Bali  membedakan aksara Bali menjadi tiga, yaitu aksara wreastra, swalalita, dan modré. Sementara itu, Bagus (1980) membagi aksara Bali berdasarkan bentuknya menjadi dua, yaitu aksara biasa dan aksara suci. Aksara biasa adalah aksara Bali yang digunakan untuk menuliskan tentang kehidupan atau keperluan sehari hari, sedangkan aksara suci dibedakan lagi menjadi dua, yaitu aksara wijaksara dan aksara modré. Dalam hubungannya dengan tulisan ini, aksara Ongkara  dipandang sebagai aksara suci, yaitu aksara wijaksara dan modré.
Hal-hal yang dijadikan permasalahan adalah bentuk dan makna Ongkara dalam budaya Bali. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mendeskripsikan bentu-bentuk ongkara dan mendeskripsikan makna yang terkandung di dalamnya. Teori yang dijadikan acuan adalah teori linguistik antropologi atau linguistik kebudayaan seperti yang dikemukakan oleh Sibarani (2004:50) , Foley dalam Pastika (2002:90), Palmer (1996:36), dan Mbete (2004:25). Untuk memperoleh data dalam tulisan ini, penulis menggunakan metode studi pustaka dan metode wawancara dengan informan ahli.
           



2. Aneka Bentuk  Ongkara dalam Budaya Bali
2.1 Aksara Ongkara pada Umumnya
            Aksara Ongkara dalam pengertian umum adalah aksara Ongkara  yang diketahui oleh masyarakat Bali pada umumnya. Ongkara tersebut tergolong aksara wijaksara. Adapun Ongkara  yang dimaksud adalah Ongkara Ngadeg, Ongkara Sungsang, Ongkara Gni, Ongkara Sabda, Ongkara Mertha, Ongkara Pasah, dan Ongkara Adu Muka. Untuk lebih jelas tentang Ongkara pada umumnya, berikut adalah tabel bentuk dan nama Ongkara  yang dimaksud.
                                                Tabel Bentuk dan Nama Ongkara
No.
Bentuk
Nama Aksara
1.
                                                          þ

Ongkara Ngadeg
2.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       
Ongkara Sungsang
3.
ý
Ongkara Gni
4.
þ
Ongkara Sabda
5.
þ  atau Ÿ
Ongkara Mertha
6.
Ongkara Adumuka
7
Ongkara Pasah

            Berdasarkan tabel tersebut bentuk aksara Ongkara dibedakan menjadi tujuh, yaitu Ongkara Ngadeg, Ongkara Sungsang, Ongkara Gni, Ongkara Sabda, Ongkara Mertha, Ongkara Adumuka,  dan Ongkara Pasah. Berikut adalah urainnya.
            Ongkara Ngadeg adalah Ongkara yang ditulis tegak yang dibangun atas O-kara, ulu candra, dan tedung. Dalam Lontar Angkus Prana, Saptongkara (3a) dan Suastana (2003:35) disebutkan sebagai berikut:
Ongkara Ngadeg  ngaran,
Wong ngaran manik,
Ka ngaran kayun,
Ra ngaran rahasya,
Ngadeg ngaran nunggal,
Maka pangsengan malane.

Berdasarkan uraian di atas, Nyoka (1994:25) menjelaskan bahwa Ongkara Ngadeg memiliki fungsi sebagai pengesengan mala. Kata mala itu berarti ‘kotoran, penyakit’ (Suparlan (1991:124). Jadi, fungsi aksara itu adalah untuk membasmi segala kotoran maupun penyakit yang ada di dalam tubuh manusia.
            Ongkara Sungsang adalah Ongkara yang ditulis terbalik. Kata sungsang (Warna, 1991:677), sama artinya dengan kata sungsyang (Suparlan, 1991:274), yaitu ‘terbalik’. Dalam hal ini kata sungsang mendapat infiks –um- menjadi  sumungsang  yang juga berarti terbalik.  Jadi, Ongkara Sungsang atau Sumungsang adalah Ongkara yang ditulis terbalik. Dalam Lontar Keputusan Dasaksara halaman 2a, Saptongkara halaman 3a, dan Tutur Aji Saraswati  halaman 20b disebutkan sebagai berikut:
Ongkara Sungsang, magnah ring walung kapala,
walung ngaran galih, kapala ngaran gidat,
ardhacandrania magnah ring batuk,
batuk ngaran alis, nadhania ring granasika,
 ngaran tungutung irung, marep sor gnahnya”.
Terjemahan:
            “Ongkara Sungsang terletak di walung kapala,
            walung adalah tulang, kapala adalah dahi,
            ardhacandranya terletak di batuk,
            batuk adalah alis, nadha nya di granasika,
            adalah ujung hidung, menghadap ke bawah”
           
Penulisan aksara Ongkara yang terbalik itu mengisyaratkan bahwa fungsinya berbeda dengan aksara Ongkara Ngadeg yang telah disebut di atas. Dalam lontar Sapta Ongkara hal 3a disebutkan bahwa Ongkara Sumungsang adalah sebuah amertha yang berfungsi untuk menghilangkan segala penyakit dan kotoran yang ada di dalam tubuh manusia yang dikeluarkan melalui telapak kaki kiri yang dalam ajaran kedyatmikan diibaratkan sebagai samudra dan lewat urat-uratnya yang diibaratkan sebagai sebuah sungai.
            Ongkara Gni adalah Ongkara yang ditulis tegak yang dibangun oleh aksara O-kara, ulu candra, dan  tanpa tedong. Ongkara Gni adalah aksara yang digunakan untuk menghidupkan api di dalam tubuh manusia.  Kata gni  itu sendiri berarti api. Tempatnya adalah di dalam dada. Umumnya, aksara ini digunakan dalam weda-weda (Nyoka, 1994:25).
            Ongkara Sabda  adalah Ongkara yang ditulis tegak sama dengan Ongkara Ngadeg, yaitu Ongkara yang dibangun atas O-kara, ulu candra, dan tedong. Kata sabda  berarti ‘kata, suara, bunyi, bicara, menyebut (Suparlan, 1991:249). Ongkara Sabda  dimaksudkan sebagai aksara yang memiliki fungsi untuk membuat suara atau perkataan seseorang itu menjadi berguna dan didengar oleh orang lain. Umumnya, aksara ini digunakan dalam weda-weda (Nyoka, 1994:25).
            Ongkara Mertha adalah Ongkara yang dituilis tegak. Ada dua pendapat tentang bentuk aksara Ongkara ini. Menurut Suastana (2003), Ongkara Mertha memiliki bentuk yang sama dengan Ongkara Ngadeg maupun Ongkara Sabda. Sementara itu, menurut Nyoka (1994:25), Ongkara ini dibangun atas O-kara dengan kaki yang bersimpul, ulu candra, dan tanpa tedong. Disebut Ongkara Mretha karena Ongkara ini merupakan kumpulan dari lima mertha, yaitu: mertha sanjiwani, mertha kamandalu, mertha kundalini, mertha mahamertha, dan mertha pawitra). Kelima amertha itu dikenal dengan sebutan Panca Mertha (Ripig, 2004:3).
Berdasarkan pengamatan penulis, Ongkara Mertha ditulis seperti ketiga simbol tersebut di atas. Ongkara Mertha dimaksudkan sebagai tubuh manusia. Perbedaan bentuk itu hanya pada ‘kaki’(bagian bawah) dari aksara itu yang akhirnya tergantung kepada penulisnya sendiri. Yang terpenting adalah makna yang terkandung di dalamnya yang akan diuraikan dalam subbab tentang makna aksara Ongkara dalam tulisan ini. Adapun fungsi dari Ongkara tersebut adalah sebagai aksara awal atau pertama dari semua mantra Hindu karena dengan bergabungnya lima mertha  sebagai simbol Panca Maha Butha,  diyakini bahwa mantra itu telah memiliki kekuatan. Dengan kata lain, telah memiliki taksu.
            Ongkara Adumuka adalah dua buah Ongkara yang ditulis dengan kepala beradu atau saling berhadapan. Ongkara Adumuka adalah bentuk aksara Ongkara  yang memiliki bentuk terbalik dengan Ongkara Pasah.  Kata adumuka memiliki makna ‘kepala yang beradu’. Jadi, Ongkara Adumuka  adalah dua buah Ongkara yang ditulis dengan kepala yang saling bertemu. Nyoka (1994:25) menyebutkan bahwa aksara tersebut adalah simbol untuk I meme lan I bapa sane kari angemu rasa. Penjelasannya diuraikan pada Ongkara Pasah di atas. Yang perlu diingat bahwa kedua aksara tersebut saling berkaitan. Dalam masyarakat Hindu dikenal dengan rwa bineda (dua hal yang berbeda), yang selalu ada di dunia ini, yaitu: ingat dan lupa, baik dan buruk, siang dan malam, dan sebagainya.
            Ongkara Pasah adalah dua buah Ongkara yang ditulis bertolak belakang. Kata pasah adalah kata dalam bahasa Bali yang memiliki makna ‘terpisah’. Ongkara Pasah  adalah  dua buah aksara Ongkara  yang kepalanya ditulis terpisah, atau bertolak belakang. Aksara ini adalah simbol I Nini lan I Kaki sane tan kari ngemu rasa (Nyoka, 1994:25). Istilah ngemu rasa artinya ‘memiliki budhi’. Budhi adalah keinginan yang sudah terlihat dengan jelas. Keinginan yang belum jelas atau masih kabur disebut dengan citta.  Tan kari angemu rasa berarti ‘sudah tidak memiliki keinginan yang jelas’.    I Kaki dan I Nini dalam hal ini sama artinya dengan I Meme dan I Bapa dalam penjelasan Ongkara Adumuka di bawah. Pada akhirnya, kedua aksara (Ongkara Pasah dan Adumuka) adalah untuk menunjuk sifat Tuhan sebagai  cetana dan acetana (ingat dan lupa). Dengan kata lain adalah purasada dan ulunswi (rwa bineda) atau Ang dan Ah.




2.2 Aksara Ongkara Khusus
            Selain bentuk-bentuk aksara Ongkara yang umum diketahui oleh masyarakat Bali kebanyakan, dalam budaya Bali juga dikenal beberapa bentuk Ongkara  yang hanya dipahami oleh sebagian masyarakat pendukungnya yang mendalami masalah keagamaan. Bentuk Ongkara yang sifatnya khusus tersebut lebih banyak tersimpan di dalam naskah lontar atau pun catatan-catatan pribadi. Dari sekian banyak bentuk Ongkara  khusus dalam budaya Bali, dalam kesempatan ini penulis mencoba menyajikan beberapa saja, yaitu: Panca Ongkara, Sapta Ongkara, Ongkara Lawa Kumereb, Ongkara Asta Komala, Ongkara Pasupati Arcana, Ongkara Tungtang Buana, Ongkara Ludra Gni, dan Ongkara Panca Agni Adbutha.

2.2.1 Panca Ongkara
Panca Ongkara  dimaksudkan sebagai lima buah aksara Ongkara  yang dalam penulisannya sebagai sebuah satu-kesatuan yang utuh. Aksara tersebut adalah lambang Panca Brahma yang ditulis bersama-sama dengan lambang padma. Aksara pokok yang membentuk Ongkara ini adalah lima buah aksara Ongkara, dua aksara berbentuk terbalik dan tiga aksara ditulis tegak. Berikut adalah bentuk Ongkara yang dimaksud.
           

2.2.2 Sapta Ongkara
Sapta adalah kosa kata bahasa Jawa Kuno yang sudah diserap ke dalam bahasa Bali yang berarti ’tujuh’ (Suparlan, 1991:256; Warna, 1991:611). Sapta Ongkara/ Saptongkara adalah Ongkara yang  dibangun dengan aksara O-kara sebagai aksara pokok, ulu candra dengan windu tujuh buah, nada, dan tedong. Dengan kata lain, Sapta Ongkara adalah Ongkara yang ditulis dengan windu bertumpuk tujuh. Dalam ajaran welija (ajaran pengiwa), aksara tersebut  merupakan cara penyusunan api (panglukunan geni) di dalam tubuh manusia. Kata sapta ’tujuh’ itu digunakan dengan maksud api yang dikeluarkan supaya memenuhi Sapta Loka (tujuh lapisan dunia), yaitu: bhur loka, bwah loka, swah loka, tapa loka, jana loka, maha loka, dan  satia loka,  dan Sapta Patala (tujuh lapisan bumi), yaitu: sutala, atala, witala, setala-tala, santala, tala-tala, dan rasa tala. Aksara yang masih ditempatnya dianggap kosong yang oleh penganut ajaran pengiwa  disebut welija.
Istilah Sapta Ongkara juga dapat kita jumpai dalam tata cara pembuatan tirtha suci menurut Surya Sewana. Sapta Ongkara  dalam hal ini diartikan sebagai tujuh sinar suci Tuhan, yaitu: Brahma, Wisnu, Iswara, Mahadewa, Sadarudra, Sadasiwa, dan Paramasiwa. Maksudnya, untuk membuat tirtha itu menjadi suci, maka harus memohon kepada ketujuh sinar suci Tuhan seperti yang tersebut di atas. Berikut adalah bentuk Ongkara yang dimaksud.
                

2.2.3 Ongkara Lawa Kumereb
            Berbeda halnya dengan aksara Ongkara sebelumnya, keenam aksara berikut  adalah aksara yang diyakini oleh penganut ajaran kebatinan sebagai aksara rahasia yang dianugerahkan oleh Ida Bhetara Dalem. Dalam kesempatan ini penulis hanya uraikan bentuk dan fungsinya, sedangkan ucapannya tidak bisa dijelaskan, karena hal itu sangat dirahasiakan dan dianggap sangat sakral. Orang yang tidak berwenang tidak dibenarkan untuk menyampaikan kepada orang lain. Dalam ajaran Yoga Kundalini, Ongkara jenis ini disebut dengan cakra yang membentuk sumber kekuatan yang ada di dalam tubuh manusia (Nala, 1994:52).
Ongkara Lawa Kumreb adalah Ongkara yang terletak di dalam tulang kepala manusia. Aksara ini digunakan untuk menghilangkan kekotoran (leteh) dalam diri manusia, menawarkan racun, mengobati penyakit gila dan bebai. Aksara ini adalah jenis aksara modré berbentuk bundar atau lingkaran yang dibangun oleh aksara  wa, O-kara, A-kara, sa, dan ta sebagai aksara pokok dan beberapa pengangge aksara  bebentuk bisah, nania, dan ulu candra. Berikut adalah bentuknya.
                 
2.2.4 Ongkara Asta Komala
            Aksara ini terdapat pada tangan kanan sebagai tempat Sanghyang Panca Dewata. Ongkara Asta Komala dibangun oleh aksara pokok la, ka, ta, dan pa. Sebagai aksara tambahan adalah bisah, suku, nania, tedong, ulu ricem, dan ulu candra.
            Ongkara Asta Komala berfungsi untuk meringankan segala pekerjaan dan  segala yang galak menjadi jinak. Adapun bentuk Ongkara  tersebut adalah sebagai berikut.
                 
2.2.5 Ongkara Pasupati Arcana
            Ongkara Pasupati Arcana adalah Ongkara yang terletak di pangkal leher. Sesuai dengan namanya, aksara itu berfungsi sebagai pasupati  kata-kata dan mantra. Juga sebagai pasupati segala senjata. Selain itu juga berfungsi sebagai pembasmi segala hal yang menyebabkan sakit (wisia).  
Ongkara ini tergolong jenis aksara modré berbentuk segiempat yang dibangun oleh aksara pokok A-kara dan perlengkapan aksara bebentuk ulu candra, ulu ricem, taling, tedung, bisah, dan nania. Berikut ini adalah bentuk aksara yang dimaksud.

                     
2.2.6 Ongkara Tungtang Buana
            Ongkara  ini dalam tubuh manusia terletak pada tangan kiri. Dalam ajaran kandapatsari diuraikan bahwa aksara ini merupakan junjungan para leyak di Bali sampai ke Nusa Penida. Aksara ini dapat  digunakan untuk memerintah semua penganut ilmu hitam dan dapat membunuh api leyak yang sedang terbang.
            Dilihat dari bentuknya, Ongkara  ini termasuk jenis aksara modré berbentuk lingkaran. Sebagai aksara pokok pembentuknya adalah ma, tha, ga, ka. Perlengkapan aksaranya adalah taling tedung, bisah, guwung, gantungan na, dan ulu ricem. Adapun bentuk aksara tersebut adalah sebagai berikut.
                      
2.2.7 Ongkara Ludra Gni
            Ongkara Ludra Gni  adalah Ongkara yang bersemayam di dalam dada. Aksara ini berfungsi untuk menghidupkan api di dalam tubuh (api pengiwa). Selain itu juga untuk membunuh musuh, mencipta pitra dan butha, dan sebagainya.
Ongkara ini termasuk aksara modré berbentuk segiempat dengan kreasi tertentu. Aksara pokok yang membentuk Ongkara  ini adalah dasaksara (Sa, Ba, Ta, A, I, Na, Ma, Si, Wa, Ya), sa, O-kara, I-kara, ha, A-kara, dan ta. Perlengkapan aksaranya bebentuk ulu ricem, ulu candra, nania, taling tedung, bisah, dan guwung. Berikut ini adalah bentuk Ongkara yang dimaksud.

                        
2.2.8 Ongkara Panca Agni Adbutha
Panca Agni Adbutha  adalah Ongkara yang terletak di bawah pusar yang diibaratkan sebagai dunia yang tak termakan oleh usia. Fungsinya adalah untuk menetralkan segala yang menakutkan.
Ongkara ini termasuk jenis aksara modré berbentuk lingkaran. Aksara pokok yang membentuk Ongkara  ini adalah A-kara, la, ca, wa, dan ma. Sebagai aksara tambahan adalah guwung, ulu candra, nania, suku, bisah, dan ulu candra. Bentuknya adalah seperti di bawah ini.
                        
                                            3. Makna  Ongkara dalam Budaya Bali
Selain bentuk, dalam tulisan ini juga dideskripsikan makna Ongkara. Makna Ongkara dibedakan menjadi dua, yaitu makna secara umum atau pandangan masyarakat umum dan secara khusus atau pandangan penganut ajaran kebatinan (kediyatmikan).
Ongkara berdasarkan pandangan  umum atau masyarakat Hindu kebanyakan, adalah simbol untuk Tuhan (Ida Sanghyang Widhi Wasa). Sepintas lalu, aksara Ongkara adalah aksara sederhana yang oleh khalayak sebagai aksara untuk Ida Sanghyang Widi Wasa. Namun, sesungguhnya tidaklah sesederhana itu. Masyarakat awam memiliki ciri cara berpikir yang oleh orang Jawa disebut nerimo. Artinya, menerima segala sesuatu dengan ikhlas tanpa perlu mencari alasan atau sebab musabab  atau hal ikhwal sesuatu.  Berbeda hal dengan penganut ajaran kebatinan yang selalu ingin mengetahui alasan atau hal dibaliknya. Berikut adalah makna Ongkara menurut kedua pandangan tersebut.



3.1 Makna Umum
Pada umumnya masyarakat Hindu mengetahui bahwa Tuhan disebut dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa yang disimbolkan dengan aksara Ongkara (ý ).  Munculnya aksara Ongkara sebagai simbol Tuhan atau Sanghyang Widhi Wasa adalah berdasarkan kesepakatan para ahli bahasa.  Aksara itu merupakan hasil persandian Aksara Ang Ung Mang. Ang + Ung + Mang (AUM) = OM = ONG.  Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Nala (1994:109--110) yang mengatakan bahwa  aksara Ongkara atau ekaaksara itu adalah penyatuan dari triaksara (Ang, Ung, Mang), Ong  sama dengan Om.
Titib (2001:442) menjelaskan sebagai berikut, ”Omkara (Brahmabija atau Brahmawidya atau Pranawa) adalah sebuah suku kata yang merupakan persetujuan. Sebagai sebuah persetujuan ia diucapkan secara sederhana, AUM. Sungguh mantra ini adalah realisasi, tentang sesuatu, persetujuan” (Chandogya Upanisad, I.1.8) 
            Argawa dkk. (2001:6) dan I Nyoman Kaler (1990:3) menjelaskan bahwa aksara Ongkara adalah hasil peringkesan aksara Wreastra menjadi Dasaksara, Dasaksara menjadi Pancaksara, Pancaksara menjadi Triaksara, Triaksara diringkes menjadi Ekaksara, yaitu Ongkara. Selain aksara itu, juga dikenal Aksara Catur Dasaksara yang berjumlah 14 buah dan Sodaksara yang berjumlah 16 buah.  Berikut adalah Aksara Sodaksara: Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang, Yang, Ang, Ung Mang, Ong. Sesungguhnya aksara-aksara itu adalah simbol Tuhan dan sinar suci-Nya. Aksara Ong itu sendiri adalah simbol Tuhan, sedangkan aksara yang lainnya adalah simbol manisfestasi-Nya.


3.2 Makna Khusus
Berbeda halnya dengan pandangan umum, penganut aliran kepercayaan atau kebatinan Hindu memandang aksara Ongkara, bukanlah simbol Tuhan atau Sanghyang Widhi Wasa. Ajaran kebatinan Hindu yang penulis maksudkan adalah ajaran Kandapat Sari yang utuh, bukan seperti yang terdapat dalam buku-buku yang terjual di toko-toko. Ajaran kebatinan tersebut berpendapat lain tentang aksara ini. Sudah tentu ada alasan, mengapa mereka berani mengatakan bahwa Ongkara itu bukan simbol untuk Sanghyang Widhi. Alasannya sebagai berikut.
            Kembali kepada sifat-sifat Tuhan, yaitu: Cadu sakti: wibhu sakti, jnana sakti, prabu sakti, kriya sakti dan Asta Sakti/Asta Iswarya: anima, lagima, mahima, prapti, prakamya, isitwa, wasitwa, yatrakama wasitwa (Nesawan, 1987: 13—20). Selain itu, Tuhan  memiliki sifat yang tak terpikirkan dan tak terbayangkan (acintya). Kalau Tuhan itu sudah tak terpikirkan dan tak terbayangkan, bagaimana mungkin bisa dibuat aksara-Nya. Jadi, menurut pandangan penganut aliran kebatinan, Tuhan itu tidak memiliki simbol. Dengan kata lain tidak ada simbol atau aksara  untuk Tuhan. Namun perlu diingat bahwa aksara Ongkara juga dikenal dalam ajaran ini, tetapi bukan sebagai simbol Tuhan. Berbeda halnya dengan pendapat umum yang meyakini bahwa aksara terakhir sebagai simbol Tuhan adalah Ongkara.
Menurut pandangan aliran kebatinan, Ongkara adalah aksara yang pertama, sedangkan aksara yang terakhir yang bisa diberikan untuk unsur-unsur Tuhan adalah rwa bineda, yaitu Ang (ö ) dan Ah (Á ;). Aliran ini juga mengenal  triyadasaksara dan sodaksara. Aksara Triyadasaksara  terdiri atas tigabelas aksara yang merupakan simbol manifestasi Tuhan sebagai Sanghyang Triyodasasaksi. Ketigabelas aksara itu mengisyaratkan bahwa Tuhan terdiri atas tigabelas unsur.  Ketigabelas unsur itu disebut dengan Sanghyang Tigawelas/Sanghyang Triyodasasaksi/Sanghyang Surya. Oleh karena itulah di Bali dikenal nama Sanghyang Surya yang terdiri dari tigabelas unsur Tuhan. Itu pula sebabnya, mengapa setiap umat Hindu sembahyang dimanapun tempatnya selalu di dahului dengan memohon kepada Sanghyang Surya sebagai upasaksi, karena Beliaulah  sesungguhnya unsur tertinggi Tuhan. Logikanya, kemanapun kita memohon (kepada sinar suci-Nya yang manapun) kita selalu harus memohon kepada yang tertinggi, yaitu Surya. Sekecil apapun upacara yang dilakukan hendaknya selalu menyampaikan permakluman ke hadapan Sanghyang Triyodasasaksi. Begitu pula halnya dengan Sanghyang Ganapati yang selalu harus dipuja karena sesungguhnya Beliau adalah sinar suci- Nya sebagai perusak dan sekaligus penyelamat yang tertinggi.
Sebagai Sanghyang Tigawelas, Beliau berstana di Padmasana. Menurut aliran ini, Tuhan disebut dengan Sanghyang Giripati/Sanghyang Giri Nata. Beliau berstana di Pura Jagatnata, bukan di Padmasana. Adapun urutan Aksaranya sebagai berikut: Ong, Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang, Yang, Ang, Ah. Aksara terakhir adalah Ang, Ah (rwa bineda, arda nareswari). Ingat dan lupa (Purasada dan Ulunswi).
Ulunswi (sanghyang manumadi) diyakini pula sebagai akhir perjalanan roh manusia untuk kemudian lahir kembali (reinkarnasi). Itu pula lah sebabnya mengapa tidak ada istilah atman yang bersatu dengan Tuhan. Yang ada adalah atman berada di sisi Tuhan. Manusia tidak akan pernah menyamai Tuhannya.
            Kembali kepada masalah Ongkara.  Aksara Ongkara merupakan panunggalan Sanghyang Pancamaha Butha sebagai unsur Tuhan yang terkecil (bahasa umumnya: akasa, bayu, teja, apah, pertiwi). Dalam dunia kebatinan dikenal dengan  sebutan I Ratu Ngurah Tangkeb Langit, I Ratu Wayan Teba, I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, dan I Ratu Ketut Petung. Kelima unsur ini merupakan kumpulan lima macam mertha, yaitu: mertha sanjiwani, mertha kamandalu, mertha kundalini, mertha mahamertha, dan mertha pawitra. Apabila kita bisa menyatukan kelima unsur itu yang sebenarnya adalah saudara kita yang hidup di tiga dunia dan saat ini telah menjadi dewa, maka bisa dikatakan sesungguhnya bahwa dirinya telah menjadi seorang Rsi yang serba bisa atau berpengetahuan yang lengkap.
            Pernyataan lain yang mendeskripsikan bahwa aksara Ongkara itu adalah simbol untuk Sanghyang Panca Maha Butha  dapat dijumpai dalam tatacara pelaksanaan dan kutipan mantra caru Rsi Ghana berikut ini.
            Caru Rsi Ghana:
Sega 9 pangkon mawadah tamas ageng, malawa don nagasari, genahnya manut  pangideran sega soang-soang inucap, merajah kadi iki:
Madya             = Ong ( ýo )
Purwa             = Ang (ö )
Gneya              = Re (Ï  )
Daksina           = Si (]i )
Neriti               = Gha (F  )
Pascima           = Na (x)
Wayabya         = Byo (Ebêo )
Uttara              = Na (n )
Ersania            = Mah (m; )

Kutipan Mantra Caru Rsi Ghana:
Ong Ang Resi Ghana byonamah,
Ong hana Sira Sanghyang Rsi Ghana,
Bentuknia kaya jaladhi sangka,
Matan Ira dumilah,
Panca Maha Butha ring tengah,
Hangilangaken satru kala traya,
Tuju, teluh, tranjana,
Kalukat den Ira Sanghyang Rsi Ghana,
Ong Sa Ba Ta A I Na Ma Si Wa Ya.

Ong etat mantram prawaksyanam,
Madya Ongkara sang stitah,
Ang-kara purwa sang stopi,
Aghne uesya dre narakah... dst. (Suandra, 1978:35 –36)

            Dalam baris ke-5 bait pertama yang berbunyi “Panca Maha Butha ring tengah”, dan baris ke-2 bait kedua mantra di atas “Madya Ongkarasang stitah”, mengandung makna bahwa Ongkara itu terletak di tengah dan merupakan simbol Sanghyang Panca Maha Butha.
Bukti lain yang menjelaskan bahwa ­Ongkara bukanlah simbol Tuhan  tampak dalam beberapa contoh kain penutup mayat atau rurub kajang. Dalam kajang aksara Ongkarai tu tidak ditulis paling atas yang menyatakan kedudukannya paling tinggi, namun ditulis ditengah-tengah. Justru, yang menjadi puncak  adalah aksara Ang (ö ), dan  Ah (Á ;). Hal itu menyatakan bahwa aksara yang terakhir adalah Ang dan Ah.
Berdasarkan penjelasan di atas, Tuhan terdiri atas tigabelas unsur dan disimbolkan dengan tigabelas aksara suci, yaitu: Ong, Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang, Yang, Ang, Ah. Sedangkan aksara Ang, Ung, Mang adalah penyatuan keseluruhannya. Secara Logika, apabila ketigabelas aksara itu digabung, mungkinkah akan menghasilkan aksara Ong? Jawabnya, tidak mungkin. Jangankan ketigabelas unsur itu, tiga unsur saja, yaitu: Ang, Ung, Mang apabila digabungkan tidak akan mungkin menjadi Ong. Dengan kata lain, ketiga simbol (air, api, dan angin) itu apabila digabung hanya akan menghasilkan dua kemungkinan.
            Begitupula pendapat aliran ini terhadap mantra. Semua mantra itu harus didahului dengan aksara Ongkara (ýo) yang terbentuk oleh O-kara, ulu candra,  dan tedong, bukan Omkara (O-kara dan ulu ricem) karena aksara Om itu tidak bermakna secara filsafat, hanya merupakan hasil persandian atau penggabungan dari perkataan “A”, “U”, dan “M” = AUM (Sugiarto, tt. 28). Ongkara yang dimaksud dalam hal ini adalah Ongkara  yang terbentuk oleh lima unsur, yaitu O-kara, ardha candra, windu, nada,  dan tedong. Jadi, keliru kalau ada pendapat yang mengatakan bahwa Ongkara  yang mengawali  mantra adalah Ongkara yang tanpa tedong karena itu bukanlah penyatuan lima amertha yang akan menghidupkan mantra itu.
            Sekali lagi, aksara Ongkara tidak sama dengan Om. Ongkara memakai ulu candra (mengandung bunyi Ng) dan Omkara memakai ulu ricem (berbunyi Em). Dalam penulisannya terutama di dalam ajaran kebatinan aksara Ongkara itu tidak bisa diganti dengan Omkara,  karena kedua aksara itu memiliki makna yang sangat berbeda.


4. Penutup
Berdasarkan kajian di atas dapat diketahui bahwa Ongkara  adalah salah satu aksara Bali yang tergolong ke dalam aksara suci yang disebut pula aksara pranawa. Ongkara  dalam hal ini tergolong ke dalam aksara Wijaksara dan Modré.
Berdasarkan bentuknya, Ongkara  dibedakan menjadi dua, yaitu Ongkara  secara umum yang bentuknya sederhana dan Ongkara khusus yang rumit dan susah dimengerti. Ongkara secara umum dibedakan menjadi tujuh, yaitu Ongkara Ngadeg, Ongkara Sungsang, Ongkara Gni, Ongkara Sabda, Ongkara Mertha, Ongkara Adumuka,  dan Ongkara Pasah. Sebagai Ongkara khusus, dalam artikel ini disajikan delapan contoh Ongkara, yaitu Panca Ongkara, Sapta Ongkara, Ongkara Lawa Kumereb, Ongkara Asta Komala, Ongkara Pasupati Arcana, Ongkara Tungtang Buana, Ongkara Ludra Gni, dan Ongkara Panca Agni Adbutha.
Berdasarkan  maknanya Ongkara dapat dibedakan menjadi dua, yaitu makna secara umum (orang kebanyakan) dan makna secara khusus (penganut ajaran kebatinan/kediyatmikan). Ongkara sebagai aksara suci dalam budaya Bali diuraikan berdasarkan dua sudut pandang, yaitu pandangan masyarakat umum dan pandangan masyarakat khusus. Secara umum, Ongkara adalah simbol Tuhan, sedangkan secara khusus, Ongkara adalah simbol manifestasi Tuhan yang terkecil, yaitu Sanghyang Panca Maha Butha.



Daftar Pustaka

Argawa dkk. 2001. “Laporan Dokumentasi Koleksi Aksara Bali”. Denpasar: Balai Bahasa.
Bagus, I G. N. 1980. “Aksara dalam Kebudayaan Bali suatu Kajian Antropologi”.
Pidato Pengukuhan Guru Besar  Tetap dalam Ilmu Antropologi Budaya.
Denpasar: Fakultas Sastra Unud.
Mbete, Aron  Meko. 2004. Lingusitik Kebudayaan: Rintisan Konsep dan Beberapa Aspek Kajiannya. (Dalam Bawa, I Wayan dan I Wayan Cika (Penyunting): Bahasa dalam Perspektif Kebudayaan). Denpasar: Universitas Udayana.
Nala, I G N. 1994. Usada Bali. Denpasar: Upada Sastra.
Nesawan. 1987. Penuntun Pelajaran Pendidikan Agama Hindu. Bandung: Ganeca exact.
Nyoka. 1994. Krakah Modré –II. Denpasar: Percetakan dan Toko Buku Ria.
Pastika, I Wayan. 2002. Nuansa Gender Dalam Bahasa Kita.(dalam Srikandi: jurnal studi jender, pol. 2 No.2). Denpasar: Pusat Studi Wanita Lembaga Pendidikan Universitas Udayana.
Palmer, Gary B. 1996. Toward A Theory  Of Cultural Linguistics. USA: The University of Texas Press.
Pemda Tingkat I Bali. 1992. “Perda No. 3 Tahun 1992, tentang Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali”.Denpasar: Pemda Tingkat I Bali.
Ripig, Ni Wayan dkk. 2004. Etika Penataan Banten dan Penataan Banten Suci.
            Denpasar: Yayasan Dharma Acarya.
Simpen AB, I Wayan. 1979. Pasang Aksara Bali. Denpasar: Dinas Pengajaran Propinsi Dati I Bali.
Suandra, I Made. 1978. Tuntunan Gunaning Masasawahan. Tabanan: Parisada Hindu Darma Kabupaten Tabanan.
Suastana, I Made. 2003. “Kanda Empat Sari”. Denpasar.
Sugiarto, R. t.t. Maitri Upanisad. Jakarta: Markas Besar Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut.
Suparlan, Y.B. 1991.Kamus Kawi Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.
Titib, I Made. 2001. Teologi & Simbol-Simbol Dalam Agama Hindu. Surabaya: Litbang PHDI Pusat dan Paramita.
Tim Penyusunan Kamus Bali-Indonesia. 1991. Kamus Bali – Indonesia. Denpasar: Dinas Pendidikan Dasar Propinsi Dati I Bali.




1 komentar:

  1. Om Swastyastu bli, ijin share..
    Tapi sebelumnya tiang mohon kejelasan gambar dari masing2 ong kara, karena banyak yg tdk terlihat gambarnya..

    BalasHapus